Sabtu, 20 Juni 2026

Presiden Prabowo Ungkit Kondisi Rumah Radio Bung Tomo: Apakah Masih Ada?

Presiden Prabowo Ungkit Kondisi Rumah Radio Bung Tomo: Apakah Masih Ada?

TRIBUNJATIM.COM- Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya Kembali menjadi perbincangan publik.

Itu setelah Presiden Prabowo mengungkitnya dalam pidatonya.

Perlu diketahui, Rumah Radio Bung Tomo merupakan tempat pidato bersejarah 10 November 1945 telah dirobohkan pada tahun 2016.

Hampir sepuluh tahun berlalu, Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung keberadaan stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) atau rumah radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10 itu. 

Prabowo mempertanyakan keberadaan Stasiun RRI, di hadapan para kepala daerah dan pejabat pemerintah lainnya. 

Dilansir dari Tribunnews, Kepala Negara pun mengingatkan, Indonesia pernah dijajah oleh bangsa lain. Melalui perjuangan para pendahulu, bangsa Indonesia bisa seperti saat ini. 

“Di mana stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo waktu pertempuran 10 November, apakah masih ada?"

"Di mana situs situs Majapahit? saya denger beberapa sudah menjadi pabrik,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pemerintah pusat dan daerah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Lantas, apa itu Rumah Radio Bung Tomo?

Tentang Rumah Radio Bung Tomo 

Rumah Radio Bung Tomo adalah bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Mawar 10-12, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya.

Di rumah yang dibangun pada tahun 1935 ini, tersimpan sejarah perlawanan bangsa Indonesia dalam perang melawan sekutu di Surabaya.

Di salah satu ruang di rumah itu, pejuang asal Surabaya, Bung Tomo, mendirikan studio pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI).

Sutomo atau dikenal dengan sebutan Bung Tomo adalah seorang pemimpin revolusioner dan militer Indonesia yang terkenal.

Dikutip dari musea.surabaya.go.id, Radio Bung Tomo menjadi tempat menyiarkan pidato-pidato berapi-api yang membakar semangat "arek-arek Suroboyo" (pemuda Surabaya) untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. 

Pemerintah Kota Surabaya pun mengakui nilai sejarah bangunan ini dengan menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) melalui SK Wali Kota Nomor 188.45/004/402.1.04/1998.▪️

Dilansir dari: tribunjatim.com

Prabowo Tanya Rumah Radio Bung Tomo, Arek Suroboyo: Usut Tuntas!

Prabowo Tanya Rumah Radio Bung Tomo, Arek Suroboyo: Usut Tuntas!

Surabaya, Beritasatu.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mempertanyakan lenyapnya rumah radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur, memantik respons dari kalangan warga Surabaya. Mereka menilai, kritik Presiden Prabowo membuka persoalan terkait lemahnya perlindungan warisan perjuangan di daerah.

Warga Surabaya Ponang Adji Handoko mengatakan, kegelisahan Prabowo mencerminkan keresahan publik yang selama ini tidak mendapat jawaban tuntas. Menurutnya, hilangnya rumah radio Bung Tomo bukan sekadar soal bangunan, melainkan simbol memudarnya keberpihakan negara terhadap sejarah perjuangan.

“Yang dipertanyakan Presiden Prabowo itu sebenarnya sederhana, yakni bagaimana mungkin situs sepenting itu bisa hilang, padahal sudah berstatus cagar budaya. Ini bukan kecelakaan, tetapi akibat kelalaian kebijakan. Karena itu aparat penegak hukum harus usut tuntas,” kata Ponang yang juga koordinator srawungan arek kampung Suroboyo saat berbincang dengan Beritasatu.com, Senin (2/2/2026).

Ponang menilai, Surabaya selama ini dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi ironisnya justru gagal menjaga salah satu titik paling penting dalam sejarah 10 November 1945. Ia menyebut, pembongkaran rumah radio Bung Tomo menjadi contoh buruk tata kelola cagar budaya yang kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Menurutnya, pernyataan Prabowo seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Pembangunan, kata Ponang, tidak boleh berjalan dengan mengorbankan memori kolektif bangsa. Jika situs sejarah terus hilang, generasi muda hanya akan mengenal perjuangan dari buku, tanpa ruang nyata untuk belajar langsung.

“Kalau bangunan sejarah terus dibongkar, kita ini sedang membangun apa? Kota modern tanpa ingatan. Itu berbahaya bagi jati diri bangsa,” ujarnya.

Ponang juga mendorong pemerintah pusat untuk tidak berhenti pada teguran moral. Ia meminta ada langkah konkret berupa evaluasi status cagar budaya, audit pembongkaran bangunan bersejarah, serta sanksi tegas bagi daerah yang lalai menjaga aset sejarah.

Ia menegaskan, kritik Presiden sejalan dengan aspirasi warga Surabaya yang selama ini menuntut kejelasan tanggung jawab atas hilangnya rumah radio Bung Tomo. “Ini momentum untuk membenahi. Jangan sampai peringatan Presiden Prabowo berlalu begitu saja,” kata Ponang.

Sementara itu, Hadi Rudiyanto warga Surabaya selatan menilai, pertanyaan Presiden Prabowo soal rumah radio Bung Tomo mewakili suara warga yang selama ini kecewa. Menurutnya, hilangnya bangunan bersejarah itu terasa menyakitkan bagi warga Surabaya yang tumbuh dengan narasi perjuangan 10 November 1945.

“Kami diajari bangga sebagai Kota Pahlawan, tapi simbol sejarahnya justru dibiarkan hilang. Wajar kalau Presiden Prabowo sampai bertanya, karena memang faktanya memalukan,” papar Hadi kepada Beritasatu.com.

Sebelumnya, Presiden Prabowo secara terbuka mempertanyakan keberadaan rumah radio Bung Tomo dalam Rakornas kepala daerah. Ia menyindir kebiasaan membongkar situs bersejarah demi gedung dan pabrik, serta mengingatkan bahwa pembangunan tanpa sejarah sama saja menghapus jati diri bangsa.

Tempat bersejarah tempat pemancar radio dan pidato Bung Tomo ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 ▪️

Dilansir dari: beritasatu.com

Prabowo: Ke Mana Rumah Radio Bung Tomo?

Prabowo: Ke Mana Rumah Radio Bung Tomo?
Presiden Prabowo Subianto. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet)

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan keberadaan rumah radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur. Rumah tersebut merupakan tempat pidato legendaris 10 November 1945 yang membakar semangat rakyat melawan penjajah yang kini lenyap, meski berstatus cagar budaya.

Ia menyentil keras kebiasaan membongkar bangunan bersejarah demi gedung dan pabrik. Ia heran, peninggalan perjuangan justru lenyap di negeri yang mengaku menjunjung sejarah.

Di hadapan para kepala daerah, Prabowo mengingatkan Indonesia pernah dijajah dan diperlakukan tidak manusiawi. Luka sejarah itu, katanya, seharusnya dijaga lewat situs-situs perjuangan, bukan malah dihapus.

“Di mana sekarang rumah radio Bung Tomo itu? Masih ada atau sudah dibongkar?” kata Prabowo dalam taklimat Rakornas kepala daerah di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).

Padahal, bangunan tersebut sudah lama berstatus cagar budaya. Namun kenyataannya, situs bersejarah itu tetap rata dengan tanah, memicu tanda tanya besar soal komitmen menjaga warisan bangsa.

Menurut Prabowo, Indonesia berdiri hari ini bukan hasil pembangunan instan, melainkan perjuangan panjang para pendahulu. Karena itu, mengejar investasi tanpa peduli sejarah sama saja menghapus jati diri bangsa.

Ia mengingatkan kepala daerah agar tidak silau proyek dan beton. Pembangunan, kata Prabowo, harus sejalan dengan penghormatan terhadap sejarah.

“Kalau semua dibongkar, anak cucu kita mau belajar sejarah dari mana?” sindirnya.

Prabowo menegaskan, menjaga situs perjuangan bukan nostalgia semata, melainkan bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang mengorbankan segalanya demi Indonesia.▪️

Dilansir dari: beritasatu.com

Minggu, 26 Juni 2022

Mati Sahid saat Haji, Ini Potret Kepulangan Jenazah Bung Tomo ke RI Penuh Haru

Mati Sahid saat Haji, Ini Potret Kepulangan Jenazah Bung Tomo ke RI Penuh Haru

Merdeka.com - Siapa yang tidak mengenal Bung Tomo. Salah satu pahlawan Nasional ini telah memberikan kobaran semangat menghadapi serta mengusir penjajah Belanda. Khususnya masyarakat Kota Surabaya. Jasa dan perjuangannya pun akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia.

Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah. Pahlawan Nasional ini menutup usia saat tengah menunaikan ibadah haji. Jasadnya pun disambut haru oleh masyarakat Surabaya setelah 8 bulan tertunda.

Wafat di Padang Arafah
Melansir dari suaramuhammadiyah, Bung Tomo bersama dua putrinya menunaikan ibadah haji pada tahun 1981. Bung Tomo berangkat dari Indonesia ke Tanah Suci pada September 1981. Namun, saat ulang tahunnya ke-61 atau tepatnya 3 Oktober 1981, Bung Tomo tak sadarkan diri karena sakit.

Menurut hasil pemeriksaan dokter di Rumah Sakit Kerajaan Arab Saudi, pahlawan Nasional ini menderita komplikasi hidrasi serta stroke. Setelah dua hari tak sadarkan diri, Bung Tomo sempat siuman. Karena tak bisa diwakilkan, pada 9 Dzulhijjah Bung Tomo melakukan wukuf di Arafah.

Karena masih sakit, Bung Tomo berangkat dengan ditandu. Namun Allah SWT rupanya memiliki rencana lain. Bung Tomo mengembuskan napas terakhir saat wukuf di Padang Arafah.

Proses Pemindahan Jenazah
Jenazah Bung Tomo tidak langsung dibawa ke Tanah Air untuk dimakamkan. Keluarga dan masyarakat Indonesia harus menunggu kedatangan jenazah sang pahlawan selama 8 bulan. Kepulangannya pun juga berkat ikhtiar keluarga dan bantuan dari berbagai pihak.

Bantuan diplomasi dari Departemen Luar Negeri dan Fatwa MUI mampu memudahkan persoalan pemindahan jenazah. Putra kedua Bung Tomo, Bambang Sulistomo dengan dua dokter ahli forensik akhirnya terbang ke Mekkah. Para petugas yang menguburkan Bung Tomo juga dapat ditemukan.

Dijelaskan, jenazah Bung Tomo dalam identifikasi tidak mengalami kesulitan yang berarti. Setelah ditemukan, jenazah kemudian dibawa dan dipulangkan ke Tanah Air. Jenazah Bung Tomo diterbangkan dengan menggunakan pesawat Hercules TNI. Keluarga pun sepakat untuk memakamkan jenazah Bung Tomo di Ngagel Rejo, Jalan Bung Tomo, Kota Surabaya dengan upacara kemiliteran.

Kepulangan Jenazah Bung Tomo
Setelah 8 bulan Bung Tomo mengembuskan napas terakhir di Padang Arafah, jenazah bisa dibawa pulang ke Tanah Air. Hal ini karena otoritas pemerintah Arab Saudi terkait pemakaman jemaah haji yang meninggal dunia di sana. Pihaknya memberikan privilege untuk bisa dimakamkan di Tanah Suci.

Kedatangan peti jenazah ini disambut oleh masyarakat Indonesia dan keluarga. Seperti terlihat dalam foto, sejumlah orang tampak berada di sana untuk menyambut kepulangan jenazah pahlawan Nasional.

Gelar Pahlawan Nasional
Bung Tomo atau yang memiliki nama lengkap Sutomo merupakan salah satu pahlawan Nasional. Sosoknya dikenal sebagai penyemangat warga Surabaya dalam menghadapi dan melawan penjajah Belanda yang kembali melalui tentara NICA.

Pertempuran tersebut berakhir dengan peristiwa 10 November 1945. Melansir dari Liputan6, meski rakyat Indonesia kalah dalam pertempuran namun mereka berhasil membuat para penjajah mundur. Tak heran, pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Akhirnya, meski terlambat, Pemerintah menetapkan Bung Tomo (Sutomo), pada tahun 2008, sebagai pahlawan nasional.


link https://www.merdeka.com/trending/mati-sahid-saat-haji-ini-potret-kepulangan-jenazah-bung-tomo-ke-ri-penuh-haru.html

Sabtu, 25 Juni 2022

Putra Bung Tomo Bambang Sulistomo Ajak Anak Muda Agar Tak Memandang Negatif Politik

Putra Bung Tomo Bambang Sulistomo Ajak Anak Muda Agar Tak Memandang Negatif Politik

SURYA.co.id | SURABAYA - Putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo mengajak anak-anak muda atau yang sering disebut generasi milenial, tidak memandang negatif politik.

Menurut Bambang selama ini masih banyak generasi milenial berpandangan, politik itu hanya soal 'ribut-ribut' pemilu, partai, DPRD, Pilpres, atau korupsi.

"Padahal politik bisa juga diartikan sebagai berbagai kebijakan untuk mengelola kehidupan negara. Bisa politik pendidikan, politik kebudayaan, politik hukum, politik pertahanan, pertanahan, kesehatan, dan banyak lainnya," jelasnya, Sabtu (9/3/2019).

Bambang mengungkap, akan jadi kekhawatiran bila generasi milenial tidak bisa melihat dan sadar akan kendala, ancaman, tantangan, dalam berbangsa dan bernegara.

Menurutnya pemahamahan politik tidak hanya melulu soal pemilihan.

"Kesadaran inilah yang selayaknya kita tanamkan pada mereka," kata Bambang khawatir.


link https://surabaya.tribunnews.com/2019/03/09/putra-bung-tomo-bambang-sulistomo-ajak-anak-muda-agar-tak-memandang-negatif-politik

Ini Alasan Jenazah Jemaah Haji Tak Bisa Dibawa Pulang ke Indonesia, Sejauh Ini Cuma Bung Tomo

Ini Alasan Jenazah Jemaah Haji Tak Bisa Dibawa Pulang ke Indonesia, Sejauh Ini Cuma Bung Tomo

JAKARTA, TELISIK.ID - Jemaah haji Indonesia meninggal dunia bertambah jadi 9 orang hingga Kamis (23/6/2022). Data itu disampaikan Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah, Mukhammad Khanif di Mekkah.

Melansir Tempo.co, anggota tim surveilans PPI Arab Saudi, Abdul Hafiz memastikan, sangat sulit membawa jemaah haji yang meninggal di Arab Saudi pulang ke Indonesia. Selama ini Pemerintah Arab Saudi tidak mengizinkan membawa jenazah pulang ke negara asal jemaah.

Alasannya karena pihak Pemerintah Arab Saudi mengkhawatirkan waktu dan jarak yang ditempuh. Jika seseorang meninggal dunia terlalu lama dan tidak segera dimakamkan, dikhawatirkan dapat merusak kondisi jenazah.

Abdul Hafiz menuturkan, yang mesti pertama kali dilakukan adalah memastikan kabar kematian jemaah haji. Sumber informasi harus diterima dari tenaga kesehatan haji (TKH) di kelompok terbang (kloter) yang terdiri dari dokter dan perawat.

Setelah memastikan ada jemaah yang wafat, TKH harus segera membuat Certificate of Death (COD), yaitu sertifikat formulir yang menjelaskan sebab wafat dari jemaah.

Jika kematiannya tidak wajar, selanjutnya itu merupakan urusan kepolisian. Bila tidak ditemukan penyebab kematian yang janggal, jenazah bisa dilanjutkan untuk proses pemakaman.

Sebelum dimakamkan, rumah sakit akan memberikan surat keterangan atau izin jemaah tersebut siap dimakamkan kepada Muassasah Adilla yang ada di Madinah.

Setelah surat keluar dari Muassasah, jemaah yang wafat tersebut bisa dibawa ke tempat pemandian di daerah Uhud sebelum dimakamkan. Pemakaman jenazah dapat dihadiri oleh pihak keluarga boleh juga tidak, tergantung keputusan dari pihak keluarga yang bersangkutan.

Memulangkan Bung Tomo
Hingga saat ini hanya Bung Tomo satu-satunya warga negara Indonesia yang jenazahnya dibawa pulang ke Tanah Air atas permintaan keluarga.

Melansir tirto.id, dalam buku Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi (2011), Rosihan Anwar mengaku: “Waktu bertemu dengan Dirjen Urusan Haji Burhani Tjokrohandoko, saya katakan tidakkah lebih baik jika Bung Tomo dimakamkan di Surabaya agar jasa-jasanya selalu dikenang? Ternyata memakan waktu lama ketika kemudian jenazah Bung Tomo dipindahkan ke Indonesia."

Tak hanya Rosihan yang menginginkan hal itu. Kolega-kolega Bung Tomo yang sudah menerima kabar kematian sang kawan pun meminta agar jenazahnya disemayamkan di Indonesia. Pihak keluarga Bung Tomo bahkan mengusahakan hal itu.

Beruntunglah keluarga Bung Tomo. Cerita Sulistiana: “Dua minggu kemudian, kami dipanggil oleh Kedutaan Besar Arab, Bambang (anak Bung Tomo) mengatakan bahwa Raja Fadh—Raja Arab Saudi—berunding dengan lima menteri tentang pengembalian jenazah Bung Tomo. Diputuskan, jenazah Bung Tomo diizinkan dibawa ke Indonesia."

Pemerintah Indonesia pun ikut membantu dengan mengirimkan tim pengembalian—yang terdiri dari dokter Moen'im ahli patologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), dr. Soetomo S. Imam Santoso (dokter pribadi Bung Tomo), Salim Zaedan (sahabat Bung Tomo), dan Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo). Mereka berangkat empat bulan setelah kematian Bung Tomo.

Salim mendapat cerita dari penjaga makam, selama musim haji, banyak jemaah pria asal Jawa Timur yang menziarahi makam itu. Saking banyaknya, si penjaga hafal letak makam. Kebetulan, tak banyak yang meninggal di hari Soetomo meninggal pada 1981 itu sehingga tidak sulit mencari makam berdasarkan tanggal kematian.

“Penutup makam dibuka oleh dr. Soetomo dan dr. Moen'im. Setelah jenazah ditemukan, dipastikan dan diidentifikasi oleh dokter Moen'im [sebagai jenazah Bung Tomo], kemudian dilaporkan [bahwa] jenazah diketemukan," tulis Sulistiana.

Bambang pun diberi waktu untuk ikut memastikan. Menurut Bambang, “Tubuh ayahnya masih utuh. Hanya pipi sebelah kiri yang menyentuh ubin saja yang dagingnya agak rusak."

Setelah mendapat informasi kematian, pihak surveilans langsung mengurus surat keterangan dari RS Arab Saudi. Setiap jemaah haji yang wafat mesti segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi guna mengetahui penyebab kematian.

Abdul Hafiz mengatakan, dalam beberapa kasus, pihak Arab Saudi akan meminta surat keterangan kepolisian. Alasannya, surat keterangan dari kepolisian diperlukan untuk membuktikan bahwa kematian jemaah haji itu adalah kematian yang wajar.

Tak lupa, dr. Soetomo mencocokkan dengan cetakan gigi dari drg. A. Dahlan. Hasilnya pas. Jenazah itu memang jenazah Bung Tomo.

Akhirnya, jenazah dibawa pulang ke Jakarta.

Jenazah Bung Tomo disambut banyak pihak. Dari pihak pemerintah hadir Joop Ave (pernah menjabat Menteri Pariwisata di masa akhir kekuasaan Soeharto). Dari kalangan kawan-kawan seperjuangannya di masa revolusi juga sangat banyak yang datang.

Bahkan, salah seorang bekas ajudan Kolonel Sungkono, yang ikut menjemput jenazah Bung Tomo, terkena serangan jantung ketika pesawat yang membawa jenazah mendarat di Jakarta. Bekas ajudan Sungkono itu pun meninggal juga, menyusul Bung Tomo, ketika dalam perjalanan ke rumah sakit.

Pada 3 Februari 1982, peti jenazah Bung Tomo dibawa ke Surabaya. Jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Rejo dengan upacara kemiliteran. 


link https://telisik.id/news/ini-alasan-jenazah-jemaah-haji-tak-bisa-dibawa-pulang-ke-indonesia-sejauh-ini-cuma-bung-tomo

Foto: Repro Pasuruankab

Rabu, 02 Maret 2022

Bela Negara Menurut Bambang Sulistomo


Bela Negara Menurut Bambang Sulistomo

Bela Negara Menurut Bambang Sulistomo 

(Anak Pahlawan Nasional Bung Tomo)

sumber link video https://belanegara.org/detail/liputan-khusus/wRefbLLyox


Sabtu, 26 Februari 2022

Jaya Suprana show- Bambang Sulistomo-Mengenang Perjuangan Bung Tomo

 

Mengenang Perjuangan Bung Tomo


Jaya Suprana show- Bambang Sulistomo-Mengenang Perjuangan Bung Tomo


Senin, 21 Februari 2022

Surat Budaya dari Mas Bambang Sulistomo yang Heroik Meniupkan Energi yang Baru

Surat Budaya dari Mas Bambang Sulistomo yang Heroik Meniupkan  Energi yang Baru


TrikNews Oleh: Jacob Ereste 
Sejujurnya, sungguh saya merasa bungah karena mendapat kehormatan atas apresiasi Mas Bambang Sulistomo – Putra Bung Tomo, sang Patriot Bangsa Indonesia – yang terkenal karena keberaniannya mengobarkan semangat perlawanan bangsa Indonesia pada 10 November 1945 di Surabaya,

Mas Bambang Sulistomo memberi komentar terhadap paparan tulisan saya berjudul “Nilai-nilai Spiritual Yang Patut Diperhatikan Untuk IKN di Penajam, Kalimantan Timur” pada 20 Februari 2022. Komentar Mas Bambang Sulistomo itu dikirim seusai waktu sholat Isa, sehingga membuat hati takjub lantaran perhatiannya yang sangat serius dan mendalam itu.
Mas Bambang Sulistomo menulis; Bung Jacob, tulisan anda sangat tajam sekali…itu mengingatkan saya bahwa kekuatan spiritual bangsa itu perlu digali kembali….sebab saya melihat bahwa tidak ada pemimpin yg mampu memberikan keteladanan revolusioner bagaimana mewujudkan masyarakat bangsa dan negara Pancasila….sebab Pancasila itu adalah intisari dari kekuatan spiritual bangsa yang ada dalam isi pembukaan UUD 45

….semua pemimpin tampak ingin terus berkuasa, paling tidak untuk mempertahankan kekuasaannya secara fisik…tidak tampak ke ikhlasan sama sekali, meskipun hanya contoh dipermukaan…semua cenderung melindungi kelompok atau golongannya sendiri….membangun kepercayaan rakyat tampak sangat sukar sekali, dengan sistem ekonomi pasar  yang liberal , egois,  anarkis dan radikal ini menunjukkan bagaimana para pemimpin tidak mampu menggali kekuatan spiritual bangsa ini….Salam hormat….Bambang Sulistomo 20/02/2022.

Pernyataan Putra Bung Tomo yang sangat saya hormati itu, memberi energi yang luar biasa sehingga saya jadi membayangkan betapa heroiknya Sang Pahlawan pada 10 November di Surabaya itu dahulu ketika membakar semangat warga bangsa Indonesia se Jawa Timur untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap penjajah. Semerta-metrta seusai membaca komentarnya itu saya membayangkan sosok pahlawan yang tengah berpidato berapi-api menyulut semangat arek-arek Suroboyo ketika itu sedang ada dihadapan saya.

Lalu mengenang sejumlah bacaan tentang kisah Bung Tomo yang selalu mengajarkan agar menjalani hidup dengan cara sederhana. Bahkan – tampaknya lantaran kejujurannya – sang Ayahandanya Mas Bambang Sulistomo pernah mengembalikan mobil dari pemerintah, karena tidak sanggup membayar cicilan yang harus dipenuhinya. Selain itu, toh Mas Bambang Sulistomo sendir pernah memberikan kesaksian bahwa betapa sederhananya, Mas Bambang Sulistomo mengaku jujur bila seragam sekolah yang digunakanna dijahit sendiri oleh ibunya, karena tidak ingin bergantung pada orang lain.

Percercapan Mas Bambang Sulistomo terhadap paparan tulisan saya itu katanya mengingatkan dirinya bahwa kekuatan spiritual bangsa itu perlu digali kembali, sungguh memberi energi tambahan bagi saya untuk memaparkan lebih jauh dasar keyakinan saya bahwa laku spiritual itu memang satu-satunya cara mengatasi krisis moral dan etika serta akhlak segenap anak bangsa utamanya bagi elit penguasa atau penyelengara negara yang semakin gandrung korup, tidak bermalu dan semakin tega menzalimi rakyat yang sepatutnya dilindungi dan diperjuangkan aspirasi dan cita-citanya agar dapat hidup lebih baik, sejahtera dan berkeadilan dengan penuh rasa nyaman dan aman.

Karena saya pun merasa miris ketika Mas Bambang Sulistomo mengatakan bahwa dia pun melihat tidak ada pemimpin yang mampu dan mau memberikan keteladanan revolusioner bagaimana cara mewujudkan masyarakat bangsa dan negara Pancasila yang sesungguhnya. Sebab Pancasila itu menurut Mas Bambang Sulistomo adalah intisari dari kekuatan spiritual bangsa Indonesia, seperti yang ada dalam kandungan isi Pembukaan UUD 45.

Apalagi kemudian Mas Bambang Sulistomo mengungkapkan bahwa semua pemimpin tampak ingin terus berkuasa, paling tidak untuk mempertahankan kekuasaannya secara fisik. Tidak tampak adanya keikhlasan bagi mereka untuk mengakhiri kekuasaannya yang sudah tidak lagi mewakili kepentingan rakyat. Meskipun hanya contoh dipermukaan, semua tetap cenderung melindungi kelompok atau golongannya sendiri. Semengtara untuk membangun kepercayaan rakyat tampaknya  sangat sukar. Apalagi dihadapan sistem ekonomi pasar yang liberal, egois, anarkis dan radikal. Semuamini, katanya membuktikan bagaimana para pemimpin tidak mampu menggali kekuatan spiritual bangsa semakin terlupakan dan dilupakan.

Banten, 21 Februari 2022

link https://triknews.co/2022/02/21/surat-budaya-dari-mas-bambang-sulistomo-yang-heroik-meniupkan-energi-yang-baru/

Kamis, 03 Februari 2022

Putra Pahlawan Bung Tomo: Kita Harus Berjuang Mengembalikan Demokrasi yang Benar

Putra Pahlawan Bung Tomo: Kita Harus Berjuang Mengembalikan Demokrasi yang Benar
Bambang Sulistomo

Kita butuh demokrasi yang benar, demokrasi yang bisa menampilkan harapan rakyat. Kita harus bersama-sama mengembalikan  demokrasi yang benar, yaitu demokrasi yang bukan prosedural, dan seremonial (Bambang Sulistomo,  31 Januari 2022)

Jumat, 17 Desember 2021

Narsum Pelatihan Anti Korupsi, Ketum IPKI Dongrak Semangat Kebangsaan Kepsek Kabupaten Muara Enim

Narsum Pelatihan Anti Korupsi, Ketum IPKI Dongrak Semangat Kebangsaan Kepsek Kabupaten Muara Enim

Merenim Post - Dihadapan ratusan Kepala Sekolah (Kepsek) Kabupaten Muara Enim, mulai dari SD, SMP hingga SMA dan SMK yang mengikuti Pelatihan Anti Korupsi, dalam rangka Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) tahun 2021, Ketua Umum Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Bambang Sulistomo, SIP, MSi menyampaikan pandangan dan pemikirannya tentang kondisi kekinian, khususnya menyangkut korupsi sebagai salah penyebab utama keprihatinan bangsa saat ini.

Menurut Putra kandung Pahlawan Nasional Bung Tomo itu, Kegiatan Pelatihan Anti Korupsi Kepala Sekolah yang dilaksanakan Dewan Pengurus Daerah Gerakan Masyarakat Perangi Koruspi (DPD GMPK) Kabupaten Muara Enim, di Ruang Paripurna DPRD Muara Enim, hari Kamis (16/12/21) itu merupakan hal yang patut diapresiasi ditengah keprihatinan Kabupaten Muara Enim yang Kepala Daerah (tiga Bupati Muara Enim-red), dan Ketua DPRD nya sudah divonis bersalah karena tindak pidana korupsi oleh KPK, termasuk 25 anggota DPRD yang saat ini sedang digarap oleh KPK.

“Kegiatan GMPK Muara Enim ini patut diapresiasi, pesertanya para kepala sekolah SD, SMP, SMA-SMK, dilaksanakan di gedung rakyat, yang saat ini para wakil rakyatnya menjadi pasien KPK. Semoga ke depan Kabupaten Muara Enim menjadi lebih baik. Memang, kondisi bangsa saat ini telah kehilangan spiritnya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam UUD 1945, dan Pancasila, serta spirit perjuangan kemerdekaan leluhur bangsa. Salah satu penyebabnya adalah korupsi. Semua dinilai dan harus dengan materi (uang). Mau mencalonkan diri sebagai Caleg, kepala desa, bahkan Capres, termasuk masuk pegawai dan karyawan, naik jabatan, dan lain sebagainya harus dengan uang, sehingga spritual kebangsaan makin melorot,” ujar Bambang dengan pihatin.

Narsum Pelatihan Anti Korupsi, Ketum IPKI Dongrak Semangat Kebangsaan Kepsek Kabupaten Muara Enim

Untuk itu menurut Badan Pendiri dan Ketua Harian Forum Bela Negara itu dalam paparannya menyampaikan solusi yang perlu dilakukan dengan kesungguhan sinergitas pemberantasan korupsi dari legislatif, eksekutif, dan yudikatif, serta masyarakat.

“Keteladanan revolusioner para pimpinan negara, tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat memberikan contoh bagaimana mewujudkan masyarakat, bangsa dan negara Pancasila,” pungkasnya. Acara tersebut melibatkan juga Ketum DPP GMPK, Irjen Pol (Purn) Dr. Bibit Samad Rianto, Ketum Purnawirawan Pengawal Kedaulatan Negara (PPKN) Letjen Mar (Purn) Suharto, Ketua Dewan Pengawas DPD GMPK Kabupaten Muara Enim Brigjen Mar (Purn) Bastian Umar, Kapolres Muara Enim, AKBP Danny Sianipar SIK, Kajari Muara Enim Irpan Wibowo SH, dan Kadin Dikbud Kabupaten Muara Enim, Irawan Supmidi, SPD, S.Mn, MM, juga dihadiri Sekretaris DPRD Muara Enim Lido Septontoni.(mp)

link https://merenimpost.com/7858/narsum-pelatihan-anti-korupsi-ketum-ipki-dongrak-semangat-kebangsaan-kepsek-kabupaten-muara-enim.html