Tampilkan postingan dengan label Media Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Online. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2020

Bambang Sulistomo Berkirim Surat untuk Presiden RI

Bambang Sulistomo Berkirim Surat untuk Presiden RI

Merenim PostDALAM momentum peringatan ikrar Pe­mu­da ke-92, putra tokoh Pahlawan Nasional Bung Tomo, Bambang Sulistomo menulis surat kepada Presiden RI, Joko Widodo, atas mencermati kekuatiran masyarakat, sejak lahirnya UU Cipta kerja yang penuh dinamika dan polemik politik kepentingan berbagai pihak.  

“Kami menulis ini bertepatan dengan pe­ringatan Ikrar Pemuda 28 Oktober 1928. Kami mencermati kekuatiran  masyarakat, sejak la­hirnya UU Cipta Kerja,” ujarnya.

Bambang juga mengingatkan, berdasarkan pengalaman masa lalu, saat Politik sebagai Panglima di masa Orde lama. Ekonomi dan Stabilitas Politik sebagai Panglima di masa Orde baru, tanpa dikawal oleh Penegakan hu­kum yang adil, bagaimana hasilnya.

“Kekuatiran itulah, bagaimana bila Inves­tasi menjadi Panglima, tanpa dikawal oleh  hukum yang adil. Oleh sebab itu, Kami mohon Bapak Presiden-Wakil Presiden mengundang pertemuan serentak diantara pendukung dan penolak UU Cipta Kerja. Melibatkan para pe­mimpin buruh, akademisi, mahasiswa/pe­lajar, para tokoh masyarakat/umat beragama,” tandasnya sambil berharap.

Masih menurut Bambang, dengan itu Pre­siden akan mendengar langsung berbagai  pen­dapat mereka. “Sebab ada kesan, bahwa golongan yang menolak UU Cip­ta Kerja tersebut tidak faham isi­nya.  Kesan ini seperti meng­ing­ka­ri rasa-jiwa patriotism, dan So­li­daritas Kebangsaan rakyat yang terbangun sejak 28 Oktober 1928,” ungkap tokoh politik nasional mengakhiri surat­nya.

Salam hormat,

Bambang Sulistomo

Selasa, 20 Februari 2018

UTA 45 Resmi Tunjuk Putra Pahlawan Bung Tomo

UTA 45 Resmi Tunjuk Putra Pahlawan Bung Tomo

JawaPos.com – Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) mendaulat Bambang Sulistomo, putra pahlawan bangsa Bung Tomo sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta.

Penunjukan Bambang bak angin segar di tengah kemelut persoalan hukum dan pendidikan yang menyelimuti bangsa ini.

“Terutama bagi iklim akademis dalam dunia pendidikan di Indonesia,” ujar Pembina Yayasan UTA 45 Jakarta, Rudyono Dharsono di Aula Rapat Yayasan UTA 45 Jakarta, Selasa (20/2).

Menurut Rudyono, apa yang dilakukan yayasan merupakan bentuk apresiasi secara konkret dari lembaga pendidikan untuk menghargai jasa para pahlawannya.

Dilantiknya Bambang sebagai ketua Yayasan UTA 45 diharapkan dapat kembali membakar semangat perjuangan, dan nasionalisme dalam memperjuangkan nilai-nilai Pancasila yang mulai tereduksi di bangsa ini.

“Sekaligus membuka jalan bagi generasi muda Indonesia, terutama para mahasiswa UTA’45 untuk dapat mengikuti secara langsung jejak-jejak perjuangan seorang pahlawan nasional 10 November. Dan itu ada pada pribadi putranya ini,” jelas dia.

Kedepan, dia bertekad menjadikan UTA’45 Jakarta menjadi pelopor pembangunan pendidikan karakter nasionalis mahasiswa/i Indonesia masa kini, menuju Indonesia yang adil dan sejahtera.

link https://www.jawapos.com/nasional/pendidikan/20/02/2018/uta-45-resmi-tunjuk-putra-pahlawan-bung-tomo/

Sabtu, 29 Juli 2017

Putra Bung Tomo Pimpin IPKI Periode 2017-2022

Putra Bung Tomo Pimpin IPKI Periode 2017-2022

Jakarta, Akuratnews.com –  Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) harus melahirkan banyak negarawan guna membantu bangsa ini keluar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Persoalan yang menjadi pro-kontra saat ini seperti Perppu Ormas dan Presidential Threshold bukan untuk diperdebatkan dan pada posisi itu IPKI harus memberikan konstribusi pemikiran agar bangsa ini tidak terbelah.

“IPKI harus menjadi solusi permasalahan bangsa dan hal itu hanya bisa dilakukan jika IPKI mampu melahirkan para negarawan,” ujar Ketua Umum IPKI terpilih Drs. Bambang Sulistomo, M.Sc ketika memberikan sambutan pada penutupan Musyawaran Nasional IPKI di Gedung Joang, Menteng 31, Jakarta, Sabtu (29/7/2017).

Menurut Putra Pahlawan Nasional Bung Tomo ini, agar IPKI bisa tampil menjadi solutif maka perlu peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di tingkat pengurus dan anggotanya. Dengan SDM yang baik maka IPKI di segenap tingkatan baik pusat maupun daerah akan bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi guna membantu pemerintah.

“Munas IPKI nantinya juga akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah di bidang ipoleksosbud,” papar Bambang.

Bambang mengakui bahwa jalannya organisasi memang tidak bisa dilepaskan dari dukungan finansial. Namun demikian, dia memberikan dorongan kepada DPW IPKI agar meski dana terbatas IPKI tetap harus tampil dengan pikiran-pikiran jernih yang mampu diperankannya.

“Pikiran adalah kekuatan, dan kekuatan ini bisa menghasilkan dukungan finansial bagi pelaksanaan program-program IPKI. Ingat uang akan hadir jika pengurus IPKI memiliki integritas dan kepribadian yang baik,” papar Bambang yang pernah menjadi Tahanan Politik era Orde Baru ini.

Dia mengatakan, mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa dan negara. Apa yang kita hadapi yaitu kita harus mengisi kemerdekaan bangsa ini dari kemiskinan, penindasan, perampasan hak-hak tanah rakyat kecil, sikap pengkhianatan. Termasuk di dalamnya kemampuan kita untuk menggali local wisdom atau sikap adi luhung dari setiap daerah.

“Kalau kita tidak berhasil menampilkan local wisdom maka kita tidak akan berhasil menampilkan kebhinekaan kita. Ini yang kita namakan dengan strategi kebudayaan,” tegas Bambang.

Bambang yang pernah menjadi wartawan ini menjelaskan, Strategi Kebudayaan ini nantinya akan menghasilkan budaya pertanian, budaya industri hingga budaya politik.

Musyawarah Nasional IPKI yang dihadiri 15 DPD dari Wilayah Barat, Timur dan Tengah ini menghasilkan tekah penetapan Ketua Umum IPKI yaitu Bambang Sulistomo dan penetapan Ketua Dewan Pembina Prof. DR. M.H. Matondang, MA.

Terkait struktur kepengurusan DPP IPKI, Bambang mengatakan bahwa susunan pengurus DPP akan segera dibentuk setelah mendapatkan masukan dari Ketua Dewan Pembina.

Kegiatan penutupan Munas IPKI 2017 ditandai dengan pengerahan Bendera Pataka IPKI dari Ketua Umum lama Prof Matondan kepada Ketua IPKI baru Bambang Sulistomo.

“Saya berterimkasih atas kepercayaan teman-teman IPKI dari daerah untuk memberikan saya memimpin IPKI. Saya mohon dan dukungannya agar semua cita-cita IPKI bisa kita jalankan bersama dengan baik,” pungkas Bambang. 

link https://akuratnews.com/putra-bung-tomo-pimpin-ipki-periode-2017-2022/

Selasa, 08 November 2016

Putra Bung Tomo: Banyak Bukti Perjuangan yang Dihilangkan

Putra Bung Tomo: Banyak Bukti Perjuangan yang Dihilangkan

VIVA.co.id – Menjelang Hari Pahlawan yang biasanya diperingati setiap tanggal 10 November, Kota Surabaya, akan selalu menyiapkan sejumlah rangkaian acara untuk menyambutnya. Mulai dari Parade Surabaya Juang, Surabaya Membara, serta berbagai festival lainnya. Selain itu, nama Sutomo, atau Bung Tomo sebagai tokoh pahlawan yang memegang peranan penting perlawanan Arek Suroboyo melawan Belanda pada 10 November 1945 lalu, juga akan banyak disebut. Meski demikian, Bambang Sulistomo yang merupakan putra dari Bung Tomo, merasa masih ada yang kurang dalam peringatan Hari Pahlawan pada tahun ini.

Salah satunya, akibat dibongkarnya rumah radio Bung Tomo yang ada di Jalan Mawar nomor 10-12, Surabaya. Bangunan bersejarah itu, memang dibongkar oleh salah satu perusahaan, PT Jayanata, untuk dijadikan lahan parkir sebuah pertokoan yang ada di tempat itu. 

Bambang mengatakan, sampai saat ini memang sudah cukup banyak bangunan bersejarah yang hilang begitu saja. Yang paling menonjol adalah rumah radio Bung Tomo, dan Gedung Proklamasi yang ada di Jalan Pegangsaan, Jakarta. 

Menurutnya, hal itu merupakan bukti, jika pemerintah memang tidak memiliki kepedulian terhadap sejarah bangsanya sendiri. “Padahal, Bung Karno itu kan pernah bilang, kalau bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah,” kata Bambang kepada VIVA.co.id, melalui telepon seluler miliknya, Senin 7 November 2016.

Selain itu, Bambang menganggap, hilangnya bangunan-bangunan bersejarah itu merupakan sebuah kesengajaan dari pihak-pihak tertentu. Tujuannya, untuk menghilangkan identitas bangsa Indonesia. 

“Mereka ingin menghapus pengetahuan generasi muda sekarang, kalau bangsanya merupakan bangsa yang mempertahankan perjuangan kemerdekaan secara keras, serta panjang, dan bangunan-bangunan itulah yang menjadi saksinya,” ujar Bambang. 

Padahal, tambahnya, bangunan-bangunan itu sebenarnya masih sangat dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia sebagai bukti perjuangan. “Kita ini masih butuh simbol-simbol untuk mengenang perjuangan para pahlawan pendahulu kita,”kata Bambang. 

Apabila kondisi itu terus berlanjut, maka Bambang menilai, bangsa Indonesia akan sangat mudah dilemahkan oleh bangsa lainnya. Alasannya, secara perlahan jati diri bangsa Indonesia mulai dihilangkan. 

“Bayangkan saja, masak Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan, akhirnya malah tidak punya sisa-sisa, atau bukti peninggalan perjuangannya? Ini kan aneh,” ujar Bambang. 

Terlebih, saat ini kondisi masyarakat juga sudah mulai hilang rasa patriotisme, dan heroismenya. Sebab, saat ini masyarakat lebih mengutamakan gaya hidup instan, dan berpikiran serba praktis.

Karena itu, Bambang mendesak, agar pemerintah lebih memiliki kepedulian terhadap perawatan berbagai peninggalan sejarah perjuangan bangsa. “Tujuannya itu sekali lagi, agar anak cucu kita tidak kehilangan rasa nasionalismenya, dan kita jangan sampai dijajah oleh bangsa asing lagi. Walaupun penjajahan zaman sekarang sudah tidak berbentuk fisik lagi, melainkan dalam bentuk yang lebih luas lagi,” kata dia. 

link: https://www.viva.co.id/berita/nasional/844883-putra-bung-tomo-banyak-bukti-perjuangan-yang-dihilangkan

Kamis, 01 September 2016

Surat cinta Bung Tomo untuk "Lies" Sulistina

Surat cinta Bung Tomo untuk "Lies" Sulistina

Surabaya (ANTARA News) - Lies, begitulah sapaan akrab untuk Sulistina Sutomo, istri Pahlawan Nasional Bung Tomo, yang telah menghembuskan nafas terakhirnya, Rabu (31/8) dini hari.

Lies pergi menyusul sang suami tercinta yang telah lebih dulu meninggalkannya. Meski raga telah tiada, namun nama istri pejuang ini tersimpan rapat di hati warga Surabaya. Semangat perjuangan Bung Tomo saat memerdekakan republik ini, tidak lepas dari sosok Lies yang setia menemaninya.

Semangat itu terus ada pada diri Lies hingga usia senjanya. Kisah heroik masa lalu terpatri dalam diri Lies bersama kenangan indah dan romantis bersama Sutomo atau yang dikenal Bung Tomo.

Di usia senja sebelum ajal menjemput, ibu empat anak dan nenek dari 12 cucu ini menyibukkan hari-harinya dengan berkebun dan menulis di kediamannya di kawasan Kota Wisata, Cibubur, Bogor.

Salah satu karya yang cukup romantis dari almarhumah Lies adalah buku berjudul "Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan".

Buku itu adalah hasil kumpulan surat-surat Bung Tomo yang dikumpulkan Sulistina selama puluhan tahun.

Salah seorang jurnalis di Surabaya, Hany Akasah mengaku kagum dengan sosok Sulistina ini. Bahkan Hany sempat membuat catatan khusus di blog pribadinya pada saat ia ngobrol dengan Lies beberapa waktu lalu saat berada di Surabaya.

"Pasangan suami istri Bung Tomo dan Lies adalah pasangan romantis. Bahkan semboyan "tresno jalaran soko kulino" pun sukses dilakukan Bung Tomo yang menikahi Lies di Malang pada tahun 1947," katanya.

Ia mengatakan awal pertemuan Lies dengan Bung Tomo pada tahun 1945, saat Lies bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI). Lies dari Malang dikirim khusus ke Surabaya untuk merawat para pejuang yang gugur dan terluka dalam peristiwa bersejarah 10 November.

Di Surabaya itulah Lies kenal Bung Tomo. Lies cukup salah tingkah dengan gerak-gerik pria kelahiran Kampung Blauran, Surabaya yang saat itu sudah menjadi idola rakyat. Bung Tomo selalu cari perhatian ketika Lies bekerja merawat para pejuang yang terluka di tenda-tenda pertolongan.

Perjuangan Bung Tomo menaklukkan istrinya tak berhenti ketika itu saja. Bung Tomo terus merajut romantismenya dalam setiap surat-surat yang dikirim ketika bertugas keluar kota.

Sosok Bung Tomo adalah seorang pribadi yang memiliki jiwa ksatria, pemberani, dan romantis. Di bawah berbagai tekanan yang dialaminya, Bung Tomo selalu mencurahkan isi hati kepada keluarga melalui puisi dan surat-surat cintanya di balik kamar tahanan.

Karena merasa surat-surat yang jumlahnya ratusan itu sangat berharga, wanita itu mengumpulan kumpulan surat yang didokumentasikan melalui buku yang disusunnya pada 2006.

Banyak cara orang mengungkapkan rasa cinta kepada pasangannya. Namun, Sulistina memilih membuat buku untuk mengungkapkan cintanya kepada Bung Tomo. Bahkan Lies mengumpulan sajak-sajak Bung Tomo.

Lies telah melahirkan empat buku, buku pertama berisi kumpulan karangan Bung Tomo, kedua berjudul Bung Tomo, Suamiku (Pustaka Sinar Harapan, 1995); ketiga, Bung Tomo Vokalis DPR 1956-1959 (Yayasan Bung Tomo, 1998), keempat Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan.

Bung Tomo juga sering berpesan kepada Lies melalui suratnya supaya terus merindukannya. "Bila kesepian, ambilah buku pelajaran Bahasa Inggris kita, ensuccess," begitu isi surat Bung Tomo.

Panggilan "Tiengke" atau sayang juga diberikan kepada Lies. Kata itu selalu menghiasi kop surat yang dikirim Bung Tomo kepada Lies.

Dalam beberapa surat panggilan sayang itu dikombinasi dengan kata-kata mesra lainya. Misalnya "Tieng adikku sayang", "Tieng isteri pujaanku", "Dik Tinaku sing ayu dewe", "Tieng Bojoku sing denok debleng" atau "Tiengke Sayang".

Bung Tomo sibuk dengan tugasnya. Tak heran, ketika pulang Bung Tomo selalu memanjakan istrinya itu. Ketika berdua dan anak-anak tidak ada, Bung Tomo sering menarik tangan Lies, lalu berdansa.

Cinta yang ditanam Bung Tomo selama bertahun-tahun sungguh merasuk ke relung jiwa Lies. Cinta mereka tak terhalang ruang dan waktu. Ketika meninggal pada tahun 1981 di Mekkah, berkali-kali Lies bermimpi dipeluk Bung Tomo yang menggunakan baju biru.

Setelah Bung Tomo meninggal dunia pun, Lies tetap rajin menulis surat. Kejadian apa pun selalu diceritakan dalam surat yang tak pernah terkirim itu. Salah satu surat yang termuat dalam buku keempatnya, Lies menulis:.

"Untuk Suamiku, kemarin tanggal 18 Desember 2004 saya telah menghadiri peluncuran buku Tarbawi dengan anak kita Bambang Sulistomo. Saya telah tertarik dengan surat undangannya, karena di situ tercantum nama Mas Tom. Meskipun saya masih sakit, karena tangan saya yang kiri masih dalam gedongan, saya perlukan datang. Saya waktu itu sedang pulang dari sholat Idul Adha, jatuh di tengah jalan dan tangan saya yang kiri patah," begitulah cuplikan suratnya.

Lies sempat mengatakan ada ajaran Bung Tomo yang sering didengungkan kepada keluarga dan masyarakat waktu itu yakni jujur dan berjuang. "Jika kita jujur, sehingga tidak merugikan orang lain, sehingga bisa memakmurkan orang lain," kata Hany menirukan perkataan Lies saat itu.

Taman Perdamaian
Sebagai istri yang tahu betul bagaimana perjuangan suaminya, Lies begitu mengingat bahwa suaminya hanya ingin rakyat Indonesia makmur dan sejahtera. Ide membangun Taman Perdamaian Dunia di Jawa Timur pun muncul dari benak Lies untuk merealisasikan apa yang diinginkan suaminya.

Dalam Taman Perdamaian dunia itu akan ada berbagai budaya asing yang terlihat, misalnya saja Jepang, Thailand, Australia, Prancis, Amerika dan lain-lainya. Sehingga, masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk melihat budaya asing.

Selain pengetahuan terhadap budaya luar negeri, Taman Perdamaian Dunia ini bisa membuka lapangan pekerjaan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia. Kalau taman mini yang ditampilkan cuma Indonesia. Tapi kalau Taman perdamaian dunia ini, seluruh budaya dunia ada disini, jadi rakyat bisa belajar dengan melihat teknologi dan budaya negara lainnya.

Mimpi sang suami itu tak lepas dari karier Bung Tomo sebagai wartawan sejak usia 17 tahun. Ia sempat bekerja pada harian Soeara Oemoem, harian berbahasa Jawa Ekspres, mingguan Pembela Rakyat, dan majalah Poestaka Timoer. Bung Tomo pernah menjabat wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang, Domei, dan pemimpin redaksi kantor berita Antara di Surabaya.

Menanggapi keinginan sang suami Lies itu, Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan pihaknya akan mewujudkan keinginan almarhumah sebelum meninggal yakni mendirikan Taman Perdamaian di Trowulan, Mojokerto.

"Nanti pasti akan saya wujudkan mimpi beliau. Karena memang sebelumnya Pemprov Jatim juga terlibat di dalamnya," kata Soekarwo sebelum melakukan shalat jenazah untuk Sulistina di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.

Soekarwo mengaku terakhir bertemu dengan Sulistina saat menikahkan putri bungsunya, Kartika, pada Maret 2016. Bahkan, saat itu, Sulistina juga menjadi saksi akad nikah putrinya.

"Setelah itu saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi," ujar Soekarwo.

Meski demikian, Soekarwo mengatakan dia terus memantau kondisi kesehatan Sulistina saat sakit, termasuk saat Sulistina sedang dirawat di ruang ICU.

"Istri saya juga tanya ke putri ketiga beliau karena teman S2, tentang kondisi kesehatan beliau," kata Soekarwo.

Menurut Soekarwo, Sulistina merupakan sosok wanita yang kuat, sebab peranan Sulistina terhadap perjuangan Bung Tomo sangat dominan.

"Bu Sulistina itu sendiri kan pejuang, karena merupakan perawat di PMI saat perang kemerdekaan," ujar Soekarwo.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menilai Sulistina Sutomo bisa saja diusulkan menjadi pahlawan nasional seperti halnya Bung Tomo. "Bisa saja beliau diusulkan menjadi pahlawan, asalkan ada yang mengusulkan karena itu prosedur standar operasionalnya," katanya.

Sementara itu, putra kandung Almarhumah Sulistina Sutomo, Bambang Sulistomo, menyampaikan bahwa sebelum meninggal dunia, ibunya berpesan agar rakyat Indonesia jangan sampai mengkhianati Merah Putih.

"Ibu berpesan jangan sampai berkhianat pada Merah Putih yang berarti Bangsa Indonesia, sebab saat perjuangan sangat banyak rakyat Indonesia menjadi korban mempertahankan bangsa," ujarnya di sela pemakaman Sulistina Sutomo di TPU Ngagel Surabaya.

Pesan tersebut tak hanya dikatakan sesaat sebelum meninggal dunia, namun selalu disampaikan kepada keluarga setiap saat agar tak berhenti mencintai Tanah Air.

Menurut dia, ucapan dari sang ibu menjadi motivasi dan pelecut bagi keluarga maupun rakyat Indonesia untuk tidak melukai negara, terutama pada era sekarang.

"Ibu selalu bilang ke anak-anaknya seperti itu. Dulu rakyat berkorban tanpa pamrih, jadi jangan khianati apa yang sudah diperjuangkan oleh para pejuang," ucap putra kedua pahlawan nasional Bung Tomo tersebut.

Sulistina Sutomo meninggal dunia di usia 91 tahun pada Rabu dinihari pukul 01.42 WIB setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta karena sakit.

Sebelum meninggal, Sulistina sempat menjalani perawatan selama kurang lebih dua minggu karena bermasalah di bagian paru-paru dan berusia lanjut sehingga sistem metabolisme tubuh menurun.

link https://www.antaranews.com/berita/581975/surat-cinta-bung-tomo-untuk-lies-sulistina

Putra Bung Tomo: Ibu Wafat dengan Tersenyum

Putra Bung Tomo: Ibu Wafat dengan Tersenyum
Jenazah Sulistina Sutomo saat dishalatkan di Masjid Al-Akbar Surabaya, 31 Agustus 2016. TEMPO/MOHAMMAD SYARRAFAH

TEMPO.CO, Surabaya - Putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, mengatakan ibundanya, Sulistina Sutomo, meninggal dunia akibat infeksi paru-paru. Bahkan ia sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto sejak dua pekan lalu hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada usia 91 tahun, Rabu dinihari, 31 Agustus 2016, pukul 01.42 WIB.

“Ibu meninggal akibat gejala paru-paru yang tidak sempurna,” ucap Bambang di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya, Rabu, 31 Agustus 2016.

Bambang menjelaskan, paru-paru Sulistina memang sudah lemah karena sudah tua. Jadi, apabila batuk dan makan, biasanya sering masuk ke paru-parunya. Karena itu, paru-parunya harus dibersihkan karena sudah terinfeksi. “Paru-parunya itu harus dioperasi, dan akhirnya kondisi infeksinya cukup parahlah hingga meninggal,” ujarnya.

Ibundanya, tutur Bambang, wafat dalam keadaan tenang dan damai. Semua keluarga, terutama anak-anaknya, mendampingi saat Sulistina mengembuskan napas terakhirnya. “Saya dan kakak saya semuanya hadir. Beliau wafat dengan tersenyum,” kata Bambang dengan mata berkaca-kaca.

Rasa duka mendalamnya itu semakin tampak ketika menceritakan bahwa ada satu ucapan Sulistina yang terus terngiang-ngiang di benaknya. Ibundanya selalu meminta untuk mengingat Bung Tomo yang mengajak arek-arek Suroboyo dan masyarakat Indonesia, termasuk dari Sulawesi dan Sumatera, berjuang melawan penjajah, dan ternyata korbannya sangat banyak.

“Jadi nanti kalian jangan khianati Merah Putih, ya, jangan khianati pengorbanan rakyat, jangan khianati yang diperjuangkan oleh para pejuang. Itu yang selalu diperingati ibu,” kata Bambang sambil menahan air matanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menilai Sulistina bukan hanya sosok istri yang selalu mendampingi Bung Tomo. Sulistina juga dinilai sebagai pejuang yang luar biasa di bidang kesehatan dalam peristiwa 10 November 1945. “Ibu ini memang sangat luar biasa,” ucapnya.

Soekarwo menambahkan, nilai-nilai perjuangan yang tanpa pamrih dan selalu berada di depan dalam berjuang diharapkan menjadi contoh dan solusi pada masa sekarang.

link https://nasional.tempo.co/read/800688/putra-bung-tomo-ibu-wafat-dengan-tersenyum


Rabu, 31 Agustus 2016

Bambang Sulistomo: Ibu juga Seorang Pahlawan

Bambang Sulistomo: Ibu juga Seorang Pahlawan
Istri dari Pahlawan Nasional Bung Tomo, Sulistina Sutomo bersama anaknya Bambang Sulistomo saat ditemui tim Tribunnews di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (2/11/2014). (Tribunnews/Jeprima) 

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA-Penjagaan ketat terlihat oleh aparat gabungan dari Mabes polri serta TNI di kediaman almarhumah Sulitino Sutomo, istri Pahlawan Bung Tomo, di JalanHaji Mhuhasyim buntu No.45, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Menurut Bambang, putra almarhumah, pemerintah sudah cukup membantu mendiang ibunya.

"Selama hidup, ibu itu dijamain kesehatannya oleh pemerintah. Ini juga pemerintah lagi membantu. Jenazah ibu akan dikawal oleh TNI dan polisi menuju Bandara Halim Perdana Kusuma," ujarnya saat bersiap menuju Bandara Halim.

Bambang sedikit bercerita sang ibunda tercinta juga seorang pejuang di Surabaya, seperti almarhum ayahandanya, Bung Tomo.

"Ibu itu juga pahlawan. ia juga ikut bertempur di Surabaya, mengangkut jenazah para pahlawan saat perang. Ketika itu, ibu adalah seorang perawat," Bambang menambahkan.

Almarhumah Sulistina Sutomo menghembuskan nafas terahirnya di usia 91 di RSPA Gatot Subroto, Jakarta karena sakit dan sudah tua.

Rencananya ALmarhumah diberangkatkan dari jakarta menuju Surabaya pukul 11.30 dari Bandara Halim Perdana Kusuma d

Almarhumah akan dikebumikan di TPU Ngagel SUrabaya tepat di samping makam suaminya, Bung Tomo.

link https://www.tribunnews.com/nasional/2016/08/31/bambang-sulistomo-ibu-juga-seorang-pahlawan

Pesan Terakhir Istri Bung Tomo: Jangan Khianati Merah Putih

Pesan Terakhir Istri Bung Tomo: Jangan Khianati Merah Putih
Istri Bung Tomo, Ny Sulistina Sutomo (kanan) dan Putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo (ilustrasi) Foto ANTARA

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Putra kandung Almarhumah Sulistina Sutomo, Bambang Sulistomo, menyampaikan bahwa sebelum meninggal dunia, ibunya berpesan agar rakyat Indonesia jangan sampai mengkhianati Merah Putih. Istri Bung Tomo tersebut meminta agar selalu mengedepankan bangsa Indonesia.

"Ibu berpesan, jangan sampai berkhianat pada Merah Putih yang berarti Bangsa Indonesia, sebab saat perjuangan sangat banyak rakyat Indonesia menjadi korban mempertahankan bangsa," katanya di sela pemakaman Sulistina Sutomo di TPU Ngagel, Surabaya, Rabu (31/8).

Pesan tersebut tak hanya dikatakan sesaat sebelum meninggal dunia. Namun selalu disampaikan kepada keluarga setiap saat agar tak berhenti mencintai Tanah Air. Menurut dia, ucapan dari sang ibu menjadi motivasi dan pelecut bagi keluarga maupun rakyat Indonesia untuk tidak melukai negara, terutama pada era sekarang.

"Ibu selalu bilang ke anak-anaknya seperti itu. Dulu rakyat berkorban tanpa pamrih, jadi jangan khianati apa yang sudah diperjuangkan oleh para pejuang," kata putra kedua pahlawan nasional Bung Tomo tersebut.

Sementara itu, pada saat menjelang meninggal dunia, Bambang Sulistomo yang saat itu berada di RSPAD Gatot Subroto bersama sanak keluarganya mengaku tabah dan ikhlas saat ibunya menghembuskan nafas terakhir.

"Terakhir, ibu meninggal dalam keadaan damai, tenang dan semuanya hadir, termasuk kakak serta adik melihat ibu. Saat itu ibu tampak tersenyum," katanya.

Mewakili pihak keluarga, pihaknya berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Panglima TNI Jenderal Gatot Narmantyo yang telah membantu secara penuh, mulai dari rumah sakit hingga proses pemakaman. "Terima kasih pula kami sampaikan kepada warga Surabaya pada khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Mohon dimaafkan jika almarhumah ada kesalahan serta semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT," katanya.

Sulistina Sutomo meninggal dunia di usia 91 tahun pada Rabu dini hari pukul 01.42 WIB, setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta karena sakit. Sulistina menjalani perawatan intensif karena masalah bagian paru-paru dan berusia lanjut, sehingga sistem metabolisme tubuh menurun. Kepada sanak saudara dan keluarganya, Bambang Sulistomo berharap diberikan kekuatan, karena sekarang masih terasa seperti mimpi kehilangan sosok seorang ibu. (sumber : Antara)

link https://www.republika.co.id/berita/ocrzfg361/Antara

Sabtu, 24 Januari 2009

'Pemimpin Banyak yang Pintar Tapi Tak Pro Rakyat'

'Pemimpin Banyak yang Pintar Tapi Tak Pro Rakyat'

Bandung, Detikcom - Ketua Lembaga Kajian Sosial, Politik dan Ketahanan Nasional Bambang Sulistomo yang juga bakal capres alternatif, menilai pemimpin di Indonesia banyak yang pintar. Namun sayangnya, mereka tidak pro rakyat.

Putra pahlawan Bung Tomo ini mengatakan pemimpin yang pintar dan pro rakyat sangat kurang. "Saya nilai orang pintar tapi tidak pro rakyat sangat kurang. Saya muncul jadi capres untuk mempersatukan rakyat dengan cara keikhlasan bukan dengan uang," ujarnya saat memaparkan visi dalam acara konvensi capres yang diselenggarakan Dewan Integritas Bangsa di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Sabtu (24/1/2009).

Menurutnya masyarakat Indonesia perlu meningkatkan spritualnya. Karena sekarang ini, apa pun selalu bisa diperoleh dengan uang.

Sementara itu capres Rizal Ramli lagi-lagi terus mengingatkan agar masyarakat tidak lagi memilih seorang pemimpin yang 4 L atau 'loe lagi loe lagi'.

Selama ini, kata dia, hanya 20 persen masyarakat Indonesia yang menikmati kemerdekaan, selebihnya belum merdeka. "Masyarakat yang sakit takut datang ke dokter, bukan karena takut dengan dokternya, namun takut membayarnya karena mahal," katanya.

Sedangkan capres terakhir yang memberikan pemaparan adalah Marwah Daud. Dia berjanji akan memberikan kepada setiap keluarga di Indonesia minimal per bulan Rp 5 juta.

"Negara kita ini kaya dengan alam, satwa, dan hutan tropis serta ragam hayati lainnya. Karena itu kita harus meninggalkan pola negatif, karena kalau tidak Indonesia bisa bangkrut bahkan bubar," tandasnya.

Dalam konvensi ini seharusnya satu capres lagi hadir, yaitu Sultan Hamengkubowono X batal hadir karena kesibukannya.

Pada saat pemaparan tiga capres ini, semua mengalami masalah saat akan menampilkan visi misi mereka melalui layar infocus yang menjadi backdrop. Bahkan Bambang harus beberapa kali terganggu dengan layar infocus yang hanya mengeluarkan suara tanpa gambar.

link https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-1073804/pemimpin-banyak-yang-pintar-tapi-tak-pro-rakyat